Minggu, 25 Desember 2011

Uji hari ini


Kau senyap... Aku bisu...
Dengan tatap kita berbincang...
Tentang senja yg terlahap malam...
Tentang makan mu siang tadi...
Dan lelahku yang tak abadi...


Sabtu, 24 Desember 2011

Sebuah Aku...


Kau menyentuh sisi lain...
Sperti sudra berjiwa brahmana
Menyusur lembah lembah pandawa

Kau hidup dari sebuah titik
Sperti opium menebar candu
Mengawang awang merasuk kalbu

Kini kau berputar putar dikhayal
Menombak sanubari
Menebar rindu tak terperi


Selasa, 13 Desember 2011

surat yang gelisah...




Sampan menenggelamkan kompas
Dan mempercayai gemintang sebagai arah
Seperti keyakinan ku pada jejakmu
Membawaku ke berantah fana, namun indah

Kau firdaus yang menyiksa... ataukah jahannam yang syahdu?

Senin, 12 Desember 2011

ini tulisan apaa coba...!!!!


sebenernya tulisan ini mo diposting kmaren, tapi krn ga jelasnya akut ya akhirnya ga jadi, nah sekarang ga jelasnya tulisan ini masih parah, namun mnurutku sayang aja klo ga diposting... jadilah akhirnya anda membaca ketidakjelasan yang tak jelas ini... selamat bingung... :p


 ______________________________________________________________________________



Pernah ketika mo keluar rumah dan bimbang mo make sendal kanan ato yang kiri dulu??  Ato mo pake jam tangan di kanan apa dikiri?? Ato mungkin pas mo pake kacamata dan kemudian galau mo pake yang kanan dulu ato yg kiri (nah lho??)....

Minggu, 11 Desember 2011

sebuah puisi dihari minggu



Dinda...
tawamu merdu, mendayu di rongga telingaku
bak syair lama yang bangkit dan menari-nari dikepalaku

Kawanmu indah dinda...
Memanjat-manjat disetiap lekukmu
Terhantup-hantup disetiap derapmu
Tiap hari senja bertengkar dengan pekat
Berebut layang putus
Lalu kau datang dengan senyummu
Mendamaikan keduanya dengan lolipopmu

Sabtu, 10 Desember 2011

Maaf (Sebuah permintaan sederhana)



Sebelumnya Tiar tak pernah seperti ini. Kegelisahannya membuncah untuk hal yang berbeda, untuk sesuatu yang lain. Tiar mulai melihat dunia sebagai panggung yang mengerikan dengan lakon yang tak jelas.

Kini ia menyusuri setapak menuju kompleks ayahnya tinggal. Sepanjang perjalanan ia mengingat-ingat kapan terakhir kali bertemu ayahnya. Tersentak ia mengingat pertengkaran hebat dengan sang  ayah.