Jumat, 26 April 2013

Setelah asap, lalu apa???

Tulisan ini bukan sama sekali tentang cerobong asap pabrik-pabrik di kawasan industry perkotaan, tapi benda yang jauh lebih kecil dari itu. Knalpot kendaraan bermotor? Bukan, bukan itu juga, meskipun kanlpot mobil memang sangat identik dengan perkotaan. Lalu apa? Sampai pada kalimat ini saya masih bersama dengan benda tersebut, saya bersama dengan ‘dia’ lah yang menulis tulisan ini. Tepat sekali, rokok.
Beberapa tulisan tentang rokok membahas betapa rokok dapat merusak kesehatan, dan pada tulisan lain betapa rokok menjadi pemicu inspirasi dan menjadi salah satu sector penting yang memberi pendapatan triliyunan rupiah untuk negeri tercinta ini tiap tahunnya.  Atau tulisan tentang kampanye anti rokok untuk kepedulian lingkungan dimana pada artikel lain mengatakan kita tidak akan pernah menonton konser-konser artis internasional atau riuhnya siaran sepakbola tanpa adanya perusahaan produsen rokok sebagai sponsor.  Bahkan ada ribuan artikel yang menunjukkan angka kematian yang luar biasa yang diakibatkan karena asap rokok, dan kisah lain mengimbanginya dengan memaparkan besarnya jumlah petani tembakau dan buruh yang bekerja di pabrik rokok untuk menghidupi keluarganya, dan sampai hari ini, kontroversi terus terjadi antara perokok yang menggaung-gaungkan kebebasan dan orang-orang anti rokok yang merasa terdzhalimi oleh asap-asap tembakau.
Saya mulai mengabaikan kontraversi tersebut, selain karena alasan ‘buang-buang energi’, saya cukup lelah memikirkan betapa para perokok akan begitu teraniaya dengan pelarangan rokok, dan betapa tersiksanya para anti rokok jika rokok tetap saja beredar bebas sampai hari ini.

http://herdissuryatna.files.wordpress.com/2011/12/puntung-rokok.jpg